
Di belahan Bumi Utara, terbentang kawasan Afrika Utara dan Asia Barat Daya (NASWA), sebuah poros sejarah yang menjadi titik temu peradaban besar dan pusat spiritual monoteistik dunia. Sementara itu, jauh di belahan Bumi Selatan, Australia berdiri sebagai laboratorium alami yang unik—sebuah benua sekaligus negara yang terisolasi secara geologis namun terhubung erat dengan dinamika ekonomi global.
Buku ini membedah kompleksitas kedua kawasan tersebut melalui lensa geografi budaya, fisik, dan politik. Pembaca akan diajak menelusuri bagaimana “peradaban hidrolik” di Mesopotamia dan Lembah Nil lahir dari keterbatasan air, hingga bagaimana fenomena oil urbanism di Teluk Persia mengubah gurun menjadi hutan pencakar langit yang futuristik. Di sisi lain, narasi berpindah ke bentang alam Australia yang ekstrem, mengungkap rahasia biogeografi di balik Garis Wallace dan Weber, serta keunikan evolusi marsupial yang tidak ditemukan di belahan dunia mana pun.
Lebih dari sekadar kajian fisik, buku ini menyajikan analisis tajam mengenai ruptur sosial dan konflik kontemporer. Mulai dari eskalasi keamanan Iran, Israel, dan Amerika Serikat periode 2024–2026 yang diwarnai Operasi “Epic Fury” dan blokade Selat Hormuz, hingga perjuangan hak kepemilikan tanah (land rights) serta proses rekonsiliasi masyarakat Aborigin di Australia.
Hadir sebagai referensi multidimensional, karya ini menantang kita untuk memahami ketahanan (resilience) manusia di tengah ancaman krisis iklim global—baik itu kekeringan panjang di Murray-Darling Basin maupun kerentanan pangan di kawasan Sahel. Mampukah kedua kawasan yang kontras ini menavigasi tantangan masa depan menuju era keberlanjutan yang baru?
Penulis : Fitri Riskiani, Juniarti Listari, Riyan Fadli Saputra
Editor : Adhi Munajar
ISBN : Sedang Proses
Tebal Buku : viii, 265 hal (155×230 mm)
Harga : Rp. 120.000.-